Tampilkan postingan dengan label Terapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terapi. Tampilkan semua postingan

Anak Autis: Terapi Autis dengan berkomunikasi dengan lumba-lumba


Ada beberapa terapi autis yang saat ini sudah berkembang mulai dari melukis , mengetik , film hingga musik dan hewan peliharaan. Namun di indonesia , saat ini berkembang terapi bagi anak autis dengan memanfaatkan ikan lumba-lumba. Bagaimana lumba-lumba mampu merangsang otak sang anak autis?Bagaimana lumba-lumba menstimulasi otak anak autis agar lebih merespon dalam berkomunikasi? Silahkan baca tuntas artikel ini namun sebelumnya ada baiknya anda membaca artikel Anak autis- pengertian , gejala , ciri dan terapi anak autis untuk memperdalam pengetahuan anda tentang anak autis.

Lumba-lumba tahu jika manusia yang ada didekatnya punya gangguan kesehatan. Kini lumba-lumba bisa dimanfaatkan untuk pengobatan karena gelombang sonar lumba-lumba bermanfaat untuk terapi anak autis, down syndrome, gangguan konsentrasi ataupun gangguan fungsi saraf motorik pascastroke.

"Gelombang sonar yang dikeluarkan lumba-lumba bisa memperbaiki syarat-syaraf yang kaku," jelas Manajer Klinik Dolphin Endang Sumaryati di Pulau Bidadari, Jakarta. Lumba-lumba memang dikenal sebagai hewan yang bersahabat dengan manusia. Selain ramah dengan manusia, mamalia yang satu ini juga secara alami mengeluarkan gelombang ultrasonar yang berfrekuensi tinggi.

Anak Autis: Berkomunikasi dengan mengetik


Pernahkah anda bayangkan ada anak autis yang mampu mengetik meski tidak dengan sempurna?Anak autis biasanya akan sulit mengekspresikan diri dan berkomunikasi dengan dunia luar. Dengan merangsang inderanya, memungkinkan anak autis untuk dapat berkomunikasi, salah satunya dengan mengajarinya mengetik. Kenapa mereka perlu dirangsang inderanya? Silahkan baca artike "Autis dan gejala-gejalanya" ini agar anda bisa memahami konsep mekanisme yang terjadi pada indera anak-anak autis tersebut. 

Ponsonby Jamie adalah anak autis asal London yang tidak dapat berbicara dan selama bertahun-tahun ia terjebak dalam dunianya sendiri. Keluarga kemudian mengajarkannya mengetik.

Kini bocah berusia 13 tahun ini tak hanya bisa mengekspresikan diri, tetapi juga mampu menulis puisi.